Thursday, February 23, 2017

Mozaik Mimpi by Isron


Mimpi, “ketika kau tak sanggup berlari untuk meraihnya maka berjalan saja lah. Ketika kau tak mampu berjalan untuk meraihnya, maka merangkak sajalah, dan jangan pernah mundur ke belakang”. Kutipan tersebut memang sudah familiar, ada yang mengatakan itu kutipan ilmuwan ada juga yang mengatakan itu kutipan tokoh lain, tapi tentang siapapun sumbernya itu bukan pokok terpenting namun bagaimana kita dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
            Panggil saja namaku Isron, anak yang sama seperti kebanyakan orang. Terlahir dalam keadaan menangis, kemudian bisa merangkak kemudian serba tertatih dan akhirnya bisa  lancar. Terlahir sama seperti mereka tetapi hidup dan mati tentu beraneka macam. Sekolah Dasar dan menengah ku tempuh di sebuah Madrasah yang corak pesantrennya masih melekat, lanjut menuju Perguruan Tinggi dan memilih jurusan matematika di Universitas Sumatera Utara dan sekarang sedang di semester tujuh.
Sekilas terlihat biasa  saja dan sama seperti kebanyakan orang, tapi menuju itu semua, memilih ketika berjumpa di titik yang memiliki persimpangan yang berbeda, memilah ketika ada dua metode penyelesaian masalah yang sekilas nampak sama, dan mengharuskan memilih bahkan ketika sedang tidak ingin memilih. Begitulah perjalanan hidup susah di tebak teka-teki nya, setiap tokoh sudah memiliki peran masing-masing dan peran itu bisa berupa sebuah pilihan yang di buat sendiri atau malah sebuah keharusan yang harus dilakoni. Selanjutnya dalam menjalani peran itu banyak terdapat kesimpangsiuran, ada yang menjalaninya setengah hati, sepenuh hati, atau bahkan tak pakai hati. Sekarang mungkin pertanyaannya tertuju padaku, yah aku. Tokoh yang memiliki peran seperti apakah aku, bagaiman aku menjalaninya, prosesnya, lalu bagaimana hasilnya?
Terasa asing jalan setapak ini, seperti jarang dilalui orang atau mungkinkah mereka begitu hati-hati menempuh jalan ini hingga tak meninggalkan bekas? Mungkinkah ada diantara mereka yang berhenti di persimpangan dan memilih mundur kebelakang, tapi barangkali ada pula yang terus menerus menyusuri jalan ini hingga ujung. Ahhh, tiada guna menduga-duga lebih baik kutempuh saja, beginilah kisahnya.
19 September 1995 adalah kelahiranku, kata mereka begitu lahir Ayahku langsung mengumandangkan Adzan sembari menggendongku. Raut wajah ceria dan bahagia orang tua ku kata mereka sangat memancar, seolah mereka lah orang tua paling bahagia di bumi Allah ini. Seiring berjalannya waktu, aku selalu di timang dan di manja penuh kasih oleh ayah serta ibu ku, kata mereka juga aku sangat dekat dengan ayah ku, merengek ketika pisah, berpelukan ketika jumpa. Kata mereka juga banyak saudara-saudara ku yang iri terhadap kedekatan ku dengan ayah. Lagi-lagi kata mereka aku tidak mau sekolah kalau ayah tidak duduk di sampingku, iya hanya kata mereka. Kenapa harus mereka?
Ayah, aku lupa kapan terakhir memanggil kata itu, tidak tersisa memori tentang sosok itu, aku juga lupa pernah memiliki. Semua itu diawali dari peristiwa yang durasinya tidak lebih dari satu menit, iya satu menit. Tetapi butuh seumur hidup bagiku melupakan peristiwa yang berdurasi kurang dari satu menit itu. Ketika itu seolah angin malam ikut berbisik padaku bintang malam itupun seolah tersorot hanya kepadaku. Ketika itu aku tidak bisa terlelap dalam tidur, tapi aku sendiri tidak tahu penyebabnya atau mungkin saja karena malam itu ayah tidak menemani tidurku sebab ia belum pulang ke rumah.Banyak kemungkinan yang timbul ketika hati kita sedang resah.
Kikk....kikkkk...kikkkk terdengar suara becak berhenti tepat di depan rumah, aku berlari ke luar dengan penuh keyakinan bahwa becak itu yang membawa pulang ayahku. Tadaaa, benar dia adalah ayah ku. Ayah.... ayah.... ayah.... sembari melompat girang dan bertepuk tangan kemudian di balas senyum oleh ayah dari seberang jalan sana sambil berkata hati-hati nak! Setelah usai membayar ongkos becaknya sambil merentangkan tangan karena ingin memelukku dan perlahan menyeberangi jalan menghampiriku. Ssttttttsstttsstttttstttt dbrukkkkkkkkkkk suara truk yang menghempas tubuh ayah ku yang mulai rapuh itu, tepat di depan mata. Sekilas namun sangat membilas, tabrak lari itu pun menoreh luka teramat dalam, menghilangkan satu sayap keluarga ku, dan luka itu membekas hingga bekas itu melekat. Dan kini, aku sudah terbiasa hidup dengan satu sayap yang mulai merebah walau tanpa seorang ayah menemani hari ku saat ini, lusa dan bahkan hingga seterusnya, iya tanpa seorang ayah.
Ibu, aku teramat susah mendefinisikan kata ibu. Aku yang berlatar belakang sebagai putra bungsu tentu sangat dekat dengan sosok ibu, tapi sosok yang selama ini bersamaku melintasi liku perjalanan hidup yang bahkan menjumpai titik persimpangan lalu menapakinya. Aku mengerti betul sosok itu, tapi jujur sulit mendefinisikan itu. Aku hanya ingin sesegera mungkin menyelesaikan studi ku dan meraih cita-cita itu hingga kelak aku bisa membahagiakannya. Terlalu banyak yang ingin ku ceritakan tentangnya hingga buat aku bingung mau menceritakan lembaran yang mana. Yang pasti banyak orang mengaguminya karena mau berjuang sendiri untuk anak-anaknya tanpa harus mencari suami baru. Yah,  ia putuskan hidup menjanda dengan memiliki empat putra dan tiga putri, ibu luar biasa bangatlah, kadang ia menjadi sosok ibu penyayang namun tak jarang juga ia jadi sosok ayah terhebat. Terima kasih ibu.
Soal cita-cita, aku hanyalah seorang anak yang belum memahami apa hal yang tersirat dibalik kata tersebut. Aku hanyalah anak kecil yang suka bergumul dalam kubangan air bersama teman-temanku ketika hujan selepas sekolah sehingga tubuh kami basah. Melepas sepatu lalu mengikatnya ke rangsel usang kami. Layaknya anak-anak lain, yang ku tahu hanyalah menjawab apa cita-citaku dengan bangganya apabila ditanya seseorang.

Bersama waktu, berbagai peristiwa begitu cepat berlalu menyingkap lembaran-lembaran hidupku satu persatu. Kini, isron yang dulu masih berumur 5 tahun ditiggal ayahnya. Sekarang ia sudah genap jadi 17 tahun dan tepat di semester akhir kelas 3 di MAN Marenu, sebuah madrasah yang memiliki banyak cerita dan tak terlukiskan. Namun kini, bukan titik persimpangan yang kutemui tetapi sekarang aku di atas perahu sendiri tanpa siapapun. Sebab sepi banyak mengajarkanmu banyak hal yang tak dapat terurai. Aku belum berani mengayuhkan perahu ku, belum berani hendak berlayar kemana, akan singgah di pulau mana, atau malah perahu ini membuat ku nyaman dan tak ingin meninggalkannya. Yah benar, aku bingung.
Melirik dari sebagian lembaran kisah sahabat-sahabat ku, 70% nya memutuskan untuk bekerja usai tamat, 20% nya kuliah, 5% nya menikah dan sisanya masih dilema, dan posisiku saat ini tepat berada di dilema. Untuk bekerja aku sendiri tidak tahu menau mau kerja apa, dengan siapa dan kemana. Menikah, masih belum terfikirkan kesana, sedang kata kuliah di perguruaan tinggi membuatku sangat ingin meraihnya namun takut bermimpi sebab kata perguruan tinggi itu merupakan suatu hal yang sangat tinggi bagi ku, sesuai dengan namanya “Perguruan Tinggi”, dikarenakan kemiskinan yang masih setia berpihak kepada ku. Berharap dikuliahkan oleh seorang ibu yang sudah beranjak 60 tahun menurutku sesuatu hal yang sangat mustahil. Salahkah jika aku tidak berani bermimpi, atau aku kah yang salah jika bermimpi? Kadang keluh itu datang, aku ingin seberuntung mereka, tapi,.........
Katanya untuk mencapai tujuan, kita harus tetap berjalan. Katanya dalam mengarungi kehidupan kita harus tetap melangkah. Katanya begitu, tapi jalanan ini tak semulus tarian lisan. Andai cita-cita itu ada di langit sedang aku adalah seekor burung, kadangkala angin harus menghadang perjalanan. Pun sayap ini tak selalu kuat menopang badan. Andai cita-cita itu adalah stasiun, kaki ini tak selamanya kuat menempuh. Kadangkala kerikil kecil nan tajam bisa saja melukai, terlebih jika kabut menghalangi pandangan, rasa-rasanya ingin menghentikan perjalanan. Tetapi begitulah cita-cita, ia tidak hanya hidup dala mimpi-mimpi yang sempurna tetapi di jemput dengan usaha yang nyata. Aku akan terus menjemput masa depan yang indah, walau terkadang tertatih atau langkah yang tak menentu.
 Seusai rutinitas upacara bendera setiap seninnya di Madrasah itu. Pak Pangurabaan, selaku kepala sekolah berniat melakukan doa bersama untuk kelulusan UN dan SNMPTN itu. Satu persatu siswa yang mendaftar sebagai peserta SNMPTN di panggil ke depan, rasa-rasanya ingin sekali namaku terpanggil. Akhh bangunlah mungkin ini hanya mimpi. Setelah usai kami pun seperti biasa menuju ruangan masing-masing menunggu guru dan jam pertama kali ini matematika, pelajaran yang paling aku sukai. “Isronuddin Hasibuan diharapkan menghadap ke ruang kepala sekolah” suara khas Ibu TS dari sumber suara di kantor guru sana. “Lah, inikan masih jam pertama kok udah di panggil aja, bukannya kalau mau latihan baca puisi pas perpisahan nanti biasanya di jam terakhir?” Cetusku sambil ngomel dalam hati sembari melangkahkan kaki menuju ruang kepala sekolah.
“Assalamualaikum pak” ucapku dengan nada santun, “masuk!” sautnya dengan nada ditekankan. Tanpa saya ceitakan sedetail mungkin, langsung saja pada hasil akhir bahwa kepala sekolah kami sangat kecewa dengan keputusanku yang tidak mau mendaftar sebagai peserta SNMPTN walau di canangkan sebagai pelamar BIDIKMISI, di tambah ibu Bendahara yang sudah sampai ke tingkat memaksa ku untuk mau berkuliah serta ibuk ST yang sangat dengan tulus memberikan gambaran dunia perkuliahan dan menekankan orang miskin juga punya mimpi. Dan masih banyak lagi guru-guru sekolah ku yang mengharapkanku jadi seorang mahasiswa.
11 tahun sudah aku tidak berani meminta sesuatu yang aku sendiri tahu ibu tidak mampu mengabulkannya, seperti minta beliin HP, beli TV, sepeda motor dan sebagainya karena aku tahu ibu akan sangat sedih jika ia tidak sanggup memenuhi keinginanku. Namun kali ini aku coba bicara baik-baik sesuai saran kepala sekolah kemarin. “Bu, kalau setelah tamat nanti isron kuliah boleh tidak bu? Soalnya ada beasiswa kata kepala sekolah, terus kita dikasih uang saku lagi sebanyak 600.000 setiap bulannya, nanti aku juga sambil kerja serabutan gitu biar bisa ngirimin uang ke ibu” cetusku dengan lembut dan penuh harap. Namun visi ku tak berjalan lancar, saat itu aku benar-benar tidak mengerti kenapa ibu sangat ngotot untuk tidak membolehkanku kuliah. Ia menangis sejadi-jadinya sambil sedikit memarahiku, mengecamku anak yang tidak tahu diri, tidak sadar diri dengan membeberkan keadaan ekonomi yang sangat memprihatinkan, “kalau kamu mau kuliah minta saja sama ayahmu di kuburan sana! Ibu tidak punya uang.” Cetusnya sambil menangis dan sedikit mengeras. Aku mengerti betul perasaan ibu, ia hanya meluapkan kesedihannya dengan caranya sendiri, ia jauh memandang lebih tinggi kata Perguruan Tinggi itu dibanding aku. Aku maklumi dan hargai pendapatnya, sebab ia hanya anak yatim piatu yang tak sempat merasakan sekolah walau hanya sekolah dasar. Masa kecil yang hanya memiliki ibu tiri membuat kesehariannya hanya bekerja, kerja dan terus bekerja. Maafkan aku mama.............
Aku sempat berfikir ingin menuruuti kata ibu saja dan menutupi kata hati dan guru-guru ku namun doktin dari guru ku sangat membuatku lebih bersemangat lagi untuk kuliah, “aku harus kuliah” selintas kalimat singkat dari pak PD selaku guru Bahasa Arab itu sangat memotivasiku untuk bisa kuliah dan membuatku memilih sebuah keputusan yang tanpa persetujuan dari ibu. Semua berkas ku urus sendiri, hal-hal yang membutuhkan tanda tangan orang tua ku paraf sendiri dan semuanya ku lakukan sendiri. “sebab hasrat dapat mengalahkan ketakutan”.
Sejak hari itu, aku tidak berani lagi menyinggung kata kuliah pada ibu, hingga berjumpa pada suatu lembaran di hidupku ketika masa pengumuman SNMPTN 2013. Aku bergegas menuju warnet dan segera ku input no pendaftaran ku satu pesatu, berharap agar sebaiknya aku tidak lulus saja biar tidak ada kebohongan baru yang timbul dan agar tidak menyakiti perasaan ibu lagi. Hampir seluruh siswa yang sedang membuka situs pengumuman di warnet itu, diantaranya ada yang sujud syukur namun kebanyakan kecewa bahkan tidak sedikit yang menangis dan rapuh. Sementara aku, diterima di Universitas Sumatera Utara pada jurusan Matematika dan penerima beasiswa Bidik Misi. Rasanya tidak percaya dan berharap proses loading yang salah, hingga ku coba dan ku coba lagi memasukkan no pendaftaran ku namun hasilnya tetap sama. Aku sedih dan menangis sejadi-jadinya, menagis bukan karena bahagia di terima di universitas ataupun sedih karena gagal di SNMPTN tapi aku menangis sebab aku memiliki alasan tersendiri. Kawan-kawan ku yang di warnet heran melihatku sambil membisu dan menduga-duga tentangku.
Hari ini aku harus lebih berani dari sebelumnya, aku bicarakan panjang lebar lagi sama ibu di kala petang waktu itu dan ku certikan sedetail mungkin dengan harapan yang sama, kali ini semoga keberuntungan itu berpihak padaku. Namun tanggapan yang sama pun muncul dari ibu, dengan menenkankan kalimat “ pergi saja kuliah, tapi jangan berharap uang dari ku nak, kalau uangmu habis pulang saja biar kita berladang saja.
Dengan berat hati ku berangkatkan diri menuju medan, kota di mana universitas tujuanku berdiri. Satu semester, dua semester hingga semester tiga setiap kali aku menelpon ibu pasti kata-kata “nak, kalau uangmu habis pulang saja biar kita berladang saja di sisni.” Itu muncul di akhir percakapan sebagai penutup. Namun kata-kata itu ku jadikan sebagai motivasi diri untuk lebih berjuang sedikit berbeda dari kawan-kawan kampus. Waktu kosong sangat ku manfaatkan untuk mencari uang tambahan. Guru Private itulah julukanku, setiap harinya selain di sibukkan dengan tugas kuliah ku sempatkan untuk berkerja demi kelangsungan hidup. Namun alhamdulillah setelah waktu ikut campur dan tindakan yang memadai akhirnya ibu setuju aku jadi mahasiswa. Di tambah aku mendapatkan seorang murid SMP yang memiliki orang tua berhati malaikat dengan menawarkanku untuk tinggal di rumah mereka secara cuma-cuma dan sesekali di kasih makan dan uang jajan. Sehingga aku bisa menyisihkan sebagian pendapatanku untuk ibu di kampung.
Kini aku sudah menjadi mahasiswa yang mandiri secara financial dan sedang merintis mandiri secara keseluruhan. Prestasi yang ku peroleh memang belum seberapa hanya pernah menjuarai MTQ bidang Fahmil Quran di tingkat universitas dan menjadi perwakilan ke provinsi, sesekali ikut lomba cerpen dan puisi sesekali ikut forum kebangsaan dan rakernas organisasi, kenapa aku sangat tertarik dengan lomba? Alasan utamaku adalah untuk bisa merasakan keindahan-keindahan di luar sana, karena jika aku menggunakan metode menabung untuk bisa berliburan aku tidak tahu kapan aku akan pergi, tetapi dengan metode lomba ini alhamdulillah sudah begitu luas dunia luar yang kulalui.
Sekarang aku sudah duduk di semester tujuh, semester yang sudah mulai memikirkan judul skripsi dan kembali akan menemui persimpangan jalan, akankah aku melanjutkan studi ku ke jenjang selanjutnya, atau ku sudahi saja dulu untuk bekerja. Inginnya sih melanjutkan ke luar negeri dengan program beasiswa, tapi hari ini aku menemukan kendala yang sama ketika usai tamat SMA dahulu, apakah aku akan memulai cara yang sama?
Namun tergantung apa pun pilihan kita sebenarnya itu tergantung keseriusan kita dalam menghadapai konsekuensi dari plihan yang akan datang. Sekarang aku punya prinsp yang mengajarkanku untuk selalu bersyukur. “Bukan aku tak seberuntung mereka, tetatpi merekalah yang tak seberuntung aku.”karena jika kita bersyukur di setiap langkah yang kita ambil maka langkah itu akan membuat langkah baru lagi.
Perlu diingat bersama juga, hidup bukanlah melulu soal bermimpi yang tinggi. Hingga diri sendiri lupa akan hakikat kehidupan yang sebenarnya. Lupa pada kesyukuran yang seharusnya terucap, akan kesederhanaan kehidupan yang telah direngkuh saat ini. Ini bukanlah soal mimpi pada saat mata memejam di malam hari. Pada saat tak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi pada diri ini dalam kurun 6 jam atau lebih waktu tidurku. Pada saat banyak orang yang bingung memetik buah yang mana dari pohon mimpinya yang nyaris tumbang.
Ini adalah soal lawatan ke alam pikiran saat kita tersadar. Lawatan ke dimensi waktu di ujung sana. Ketika aku melihat diriku sendiri berpakaian indah khas bangsawan sehingga aku tampak lebih gagah. Ketika itu aku dan keluargaku berkumpul, telah pulang dari pencapaian mimpi kami masing-masing. Lalu,  begitulah impian, dia tidak hanya hidup dalam mimpi-mimpi yang sempurna tetapi di jemput dengan usaha yang nyata walau terkadang dengan langkah tak beraturan.


Kalau kamu mau lebih tau banyak tentang Isron Hasibuan bisa cek social medianya dia di:
Line : isronhsb
Ig : isron_hsb
Fb : isron Hasibuan


EmoticonEmoticon